Jakarta (cafekomputer.net) – Perusahaan teknologi raksasa Google mengungkap percepatan besar dalam adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di seluruh ekosistem produknya. Dalam catatan terbaru CEO Google dan Alphabet, Sundar Pichai, perusahaan menilai AI kini memasuki fase baru, yakni ketika pengguna mulai merasakan manfaat nyata teknologi tersebut dalam aktivitas sehari-hari.
Pernyataan itu disampaikan menjelang konferensi tahunan Google I/O, yang tahun ini banyak menyoroti pengembangan AI generatif pada layanan konsumen maupun infrastruktur perusahaan.
Menurut Pichai, Google terus mempertahankan strategi “AI-first” yang telah dijalankan selama satu dekade terakhir. Pendekatan tersebut mencakup pengembangan menyeluruh mulai dari chip khusus, model AI, riset, hingga integrasi teknologi ke berbagai produk yang digunakan miliaran orang.
Google mencatat penggunaan AI berkembang pesat di berbagai kalangan, mulai dari pelajar yang memanfaatkan aplikasi Gemini untuk belajar, kreator musik dan visual yang memakai model generatif seperti Lyria dan Veo, hingga pengembang aplikasi yang membangun layanan berbasis AI.
Penggunaan AI Google Melonjak Tajam
Salah satu indikator utama pertumbuhan AI Google terlihat dari lonjakan pemrosesan token, yaitu unit data dasar yang diproses model AI.
Dua tahun lalu, Google memproses sekitar 9,7 triliun token per bulan di seluruh layanannya. Angka itu meningkat menjadi sekitar 480 triliun token pada tahun lalu. Kini, Google mengklaim volume tersebut melonjak tujuh kali lipat menjadi lebih dari 3,2 kuadriliun token per bulan.
Lonjakan itu didorong meningkatnya aktivitas pengembang dan perusahaan yang menggunakan model AI Google. Saat ini, lebih dari 8,5 juta developer disebut aktif membangun aplikasi berbasis model AI Google setiap bulan.
Selain itu, API model AI Google kini memproses sekitar 19 miliar token per menit. Di sektor korporasi, lebih dari 375 pelanggan Google Cloud tercatat telah memproses lebih dari satu triliun token dalam setahun terakhir.
Gemini dan Search Jadi Mesin Pertumbuhan
Google juga menyoroti pertumbuhan signifikan pada produk berbasis AI mereka, khususnya Search dan aplikasi Gemini.
Perusahaan menyebut kini memiliki 13 produk dengan lebih dari satu miliar pengguna. Lima di antaranya bahkan melampaui tiga miliar pengguna global.
Layanan pencarian Google menjadi fokus utama transformasi AI perusahaan. Fitur AI Overviews disebut telah memiliki lebih dari 2,5 miliar pengguna aktif bulanan. Sementara AI Mode, fitur pencarian berbasis percakapan AI, telah menembus satu miliar pengguna aktif bulanan hanya dalam waktu sekitar satu tahun.
Menurut Google, pola penggunaan Search kini berubah. Mesin pencari tidak lagi sekadar dipakai untuk satu pertanyaan singkat, tetapi berkembang menjadi pengalaman percakapan yang lebih panjang dan kontekstual.
Di sisi lain, aplikasi Gemini juga mencatat pertumbuhan pesat. Jika tahun lalu memiliki sekitar 400 juta pengguna aktif bulanan, kini jumlahnya melampaui 900 juta pengguna. Permintaan harian terhadap layanan tersebut bahkan meningkat lebih dari tujuh kali lipat dalam periode yang sama.
Google turut mengungkap bahwa lebih dari 50 miliar gambar telah dihasilkan melalui model generator gambar “Nano Banana”, yang menjadi salah satu fitur AI generatif paling populer sepanjang tahun terakhir.
Google Siapkan Infrastruktur AI Skala Besar
Untuk menopang ekspansi AI tersebut, Google meningkatkan investasi besar pada infrastruktur teknologi.
Pada 2022, perusahaan mengalokasikan belanja modal sekitar US$31 miliar per tahun. Tahun ini, angkanya diperkirakan melonjak hingga sekitar US$180-190 miliar.
Salah satu fokus utama investasi berada pada pengembangan Tensor Processing Unit (TPU), chip khusus AI milik Google. Perusahaan baru saja memperkenalkan TPU generasi kedelapan yang terdiri dari dua varian, yakni TPU 8t untuk pelatihan model skala besar dan TPU 8i untuk kebutuhan inferensi atau pemrosesan respons AI.
TPU 8t diklaim memiliki kemampuan komputasi hampir tiga kali lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Google juga menyebut kini mampu mendistribusikan pelatihan model AI ke lebih dari satu juta TPU secara global.
Sementara TPU 8i dirancang untuk meningkatkan kecepatan respons layanan AI. Google menilai kecepatan pemrosesan tetap menjadi faktor penting, terutama dalam layanan pencarian yang digunakan secara real-time oleh miliaran pengguna.
Selain performa, perusahaan juga menekankan aspek efisiensi energi. Kedua chip terbaru itu disebut mampu menghadirkan performa hingga dua kali lebih baik untuk setiap watt daya yang digunakan.
Dengan agresivitas investasi dan pertumbuhan pengguna yang terus meningkat, Google memperlihatkan ambisi memperkuat posisinya dalam persaingan AI global, terutama menghadapi kompetisi ketat dari perusahaan teknologi lain di sektor AI generatif. (joh)

